Senin, 10 Juni 2013

Posted by Unknown |

A.    Pengertian Eksistensialisme

Eksistensialisme yaitu suatu usaha untuk menjadikan masalah menjadi konkret karena adanya manusia dan dunia. Menurut Sartre eksistensialisme yaitu filsafat yang memberi penekanan eksistensi yang mendahului esensi. Memandang segala gejala yang ada berpangkal kepada eksistensi. Dengan adanya eksistensi akan penuh dengan lukisan-lukisan yang konkret dengan metode fenomenologi (cara keberadaan manusia).

Eksistensi sendiri yaitu eks artinya keluar, sintesi artinya berdiri; jadi eksistensi adalah berdiri sebagai diri sendiri. Menurut Heideggard “Das wesen des daseins liegh in seiner Existenz” , da-sein adalah tersusun dari kata “da” yang berarti disana dan “sein” yang berarti berada. Jadi artinya manusia sadar dengan tempatnya. Menurut Sartre adanya manusia itu bukanlah “etre” melainkan “ a etre” yang artinya manusia itu tidak hanya ada tetapi dia selamanya harus dibentuk tidak henti-hentinya.

Menurut Parkey (1998) aliran eksistensialisme terbagi menjadi 2, yaitu; bersifat theistic(bertuhan) dan atheistic. Menurut eksistensialisme sendiri ada 3 jenis; tradisional, spekulatif dan skeptif.

Eksistensialisme sangat berhubungan dengan pendidikan karena pusat pembicaraan eksistensialisme adalah keberadaan manusia sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia. 

Eksistensi merupakan keadaan tertentu yang lebih khusus dari sesuatu. Apapun yang bereksistesi tentu nyata ada. Sesuatu dikatakan bereksistensi jika sesuatu itu bersifat public yang artinya objek itu sendiri harus dialami oleh banyak orang yang melakukan pengamatan

Seperti juga halnya, perasaan anda yang tertekan tidak bereksistensi, meskipun perasaan itu nyata ada dan terjadi dalam diri anda. Apa yang bersifat public kiranya selalu menempati  ruang dan terjadi dalam waktu. Oleh karena itu eksistensi sering dikatakan berkenaan dengan objek-objek yang merupakan kenyataan dalam ruang dan waktu.


B. Sejarah Eksistensialisme

Sejarah munculnya eksistensialisme yaitu pertama istilah ini dirumuskan oleh ahli filsafat Jerman yaitu Martin Heidegger (1889-1976). Akar metodelogi eksistensialisme ini berasal dari fenomenologi yang dikembangkan oleh Edmund husserl (1859-1938).

Sedangkan munculnya filsafat eksistensialisme ini dari 2 orang ahli filsafat Soeran Kierkegaard dan Neitzche. Kierkegaard seorang filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertannyaan mengenai pertannyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu?” dia juga menerima prinsip Socrates yang mengatakan bahwa” pengetahuan akan diri adalah pengetahuan akan Tuhan” . Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensialisme (manusia melupakan individualitasnya), sehingga manusia bisa menjadi manusia yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan dan komitmen pribadi dalam kehidupan.

Neitzche, juga filsuf Jerman (1844-1900) yang tujuan filsafatnya menjawab pertannyaan ” Bagaimana menjadi manusia unggul?” dan menurut dia jawabannya adalah manusia bisa menjadi manusia unggul jika mempunyai keberaniaan untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani.

Kedua tokoh diatas muncul karena adanya perang dunia pertama dan situasi Eropa pada saat itu, sehingga mereka tampil untuk menjawab pandangan tentang manusia seperti yang sudah dijelaskan diatas.

Disamping itu penyebab munculnya filsafat eksistensialisme ini yaitu adanya reaksi terhadap filsafat materialisme Marx yang berpedoman bahwa eksistensi manusia bukan sesuatu yang primer dan idealisme Hegel yang bertolak bahwa eksistensi manusia sebagai yang konkret dan subjektiv karena mereka hanya memandang manusia menurut materi atau ide dalam rumusan dan system-sistem umum (kolektivitas social).

Pengaruh lahirnya filsafat eksistensialisme berasal dari filsafat hidup bergson dan Metafisika Modern. Filsafat ini muncul pada paruh pertengahan abad ke-20. Terdapat beberapa tokoh Eksistensialisme diantaranya adalah Jean Paul Sartre (1905-1980).

 

C. Tokoh Eksistensialisme - Jean Paul Sartre

Jean P. Sartre dilahirkan di Paris, Prancis, 21 Juni 1905, Sartre adalah filsuf dan penulis Prancis yang namanya tetap terkenal hingga saat ini. Ia meraih gelar doktor di bidang filsafat, dan kemudian mengajar di bidang tersebut selama beberapa tahun. Setelah Perang Dunia II, Sartre meninggalkan pekerjaannya sebagai pengajar, dan mengabdikan hidupnya untuk menulis.

Sartre telah menjadi yatim sejak berusia dua tahun, dan sejak itu ia diasuh oleh kakeknya, Charles Schweitzer, yang kelak memiliki pengaruh besar dalam pemikiran dan perkembangan bakat menulis Sartre. Sebagaimana kakeknya, Sartre menertawakan segala sesuatu yang bersifat religius. Semenjak berusia 12 tahun, ia sudah tidak mengakui keberadaan Tuhan. Dunianya adalah perpustakaan kakeknya.

Pada tahun 1924, Sartre diterima di Ecole Normale Superieure, perguruan tinggi paling terkenal dan paling selektif di Prancis. Tahun 1929 ia lulus dengan predikat Agregation de Philosophie nomor satu. Sejak tahun 1931, Sartre mengajar sebagai guru filsafat di Le Havre, Loan, dan Paris.

Pada 22 Oktober 1964, Sartre dianugerahi Nobel Sastra, namun dia menolak, dengan alasan hadiah itu akan menurunkan integritas karya-karyanya.

Sartre menikah dengan pemikir wanita yang juga terkenal, bernama Simone de Beauvoir. Ia meninggal dunia pada 15 April 1980, di sebuah rumah sakit di Broussais, Paris, dan upacara pemakamannya dihadiri sekitar 50.000 orang.

Sepanjang hidupnya, Sartre telah menulis banyak pemikiran penting, di antaranya adalah “Being and Nothingness”, “L’Imagination”, “Morts sans Sépulture”, dan “L’Imaginaire”. Sementara autobiografinya berjudul “Les Mots”.

Pandangan Jean Paul Sartre Mengenai Eksistensialisme

Pada awal dilancarkan tuduhan dari pihak Katolik, seperti Mlle.Mercier, bahwa eksistensialisme itu hanya menggarisbawahi hal-hal yang memalukan, yang rendah, yang patut dicela, yang menjijikkan dalam situasi konkret manusia dan Sartre cenderung mengabaikan pesona, keindahan dan hal-hal yang baik dari kodrat manusia. Lebih jauh lagi, eksistensialisme dianggap menyangkal realitas dan kesungguhan perikehidupan antar manusia karena ia mengabaikan Perintah Tuhan dan nilai-nilai yang dalam pandangan Kristen disakralkan dan dipercaya sebagai abadi. Singkatnya, eksistensialisme itu melulu voluntary. Artinya, bahwa tiap orang dapat berbuat semaunya seturut apa yang ia sukai. Ada lagi yang berkomentar bahwa eksistensialisme itu sama sekali tidak menyinggung soal solidaritas umat manusia dan menelaah manusia dalam ke-terisolir-annya. Dan ini, dalam pandangan kaum komunis, dikarenakan eksistensialisme mendasarkan ajarannya pada subjektivitas murni seperti yang diajarkan oleh Descartes dengan cogito-nya—karenanya, eksistensialisme dengan ego-nya, tidak akan sanggup menjangkau sesamanya, apalagi berpikir tentang tentang solidaritas.

Namun, Sartre membela dirinya dan membela paham yang ia anut. Pertama, ia sendiri juga menyayangkan bahwa istilah “eksistensialisme” dipakai secara teramat longgar untuk menamai apa-apa saja yang tampil sedikit berbeda, dan radikal sehingga istilah “eksistensialisme” nyaris tidak punya arti apa-apa lagi. Kedua, guna meluruskan salah-kaprah seputar peristilahan dan aplikasinya, pertama-tama Sartre mulai mendefinisikan eksistensialisme sebagai suatu ajaran yang menyebabkan hidup manusia itu menjadi mungkin. Selain itu, eksistensialisme juga merupakan suatu ajaran yang mengafirmasi bahwa setiap kebenaran dan setiap tindakan itu mengandung di dalamnya sebuah lingkungan dan suatu subjektivitas manusia. Definisi yang terakhir ini kelak akan ia elaborasi dengan peristilahan a human universality of condition. Dua definisi yang baru saja disebut di sini hanyalah awalan saja. Ketiga, definisi Sartre yang paling terkenal tentang eksistensialisme dirumuskannya sebagai berikut: Bahwa eksistensi itu (hadir) mendahului esensi dan karenanya kita harus mulai dari yang subjektif.

Secara sederhana, Sartre mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menerangkan maksud dari “bahwa eksistensi itu hadir mendahului esensi.” Ia mengajak pembaca untuk membayangkan sebuah buku atau pisau kertas (paper knife). Seorang pembuat pisau kertas, disebut artisan, tentu mempunyai konsepsi terlebih dahulu di benaknya apa yang mau ia buat, kegunaannya dan bagaimana prosedur pembuatannya. Esensi dari pisau kertas itu, yaitu keseluruhan dari rumusan pembuatan (formulae) serta kualitas-kualitas tertentu yang membuat terproduksinya dan definisinya menjadi mungkin, mendahului eksistensinya. Dengan kata lain, produksinya mendahului eksistensinya

Sekali lagi ditegaskan Sartre bahwa yang dimaksud dengan “eksistensi mendahului esensi” adalah bahwa pertama-tama manusia itu eksis (ada, hadir), menjumpai dirinya, muncul (Inggris: surges up; Jawa: mentas) di dunia dan baru setelah itu mendefinisikan dirinya itu siapa. Jika manusia sebagai eksistensialis melihat bahwa dirinya itu belum ditentukan, hal itu adalah karena pada permulaannya dia itu memang bukan apa-apa (nothing). Dia tidak akan menjadi apa-apa sampai tiba saatnya ketika ia menjadi apa yang ia tentukan sendiri. Oleh karenanya, tidak ada itu yang dinamakan kodrat manusia, sebab tidak ada Allah yang mempunyai konsepsi tentang dia (manusia).

Mengenai subjektivitas ini, Sartre mengakuinya. Namun bukan subjektivitas sebagaimana dimaksud oleh para pengkritiknya. Subjektivitas yang dimaksud Sartre dalam pengertiannya tentang eksistensi adalah bahwa manusia itu mempunyai martabat yang lebih luhur daripada, katakanlah, batu atau meja. Subjektivitas yang dimaksud Sartre adalah bahwa manusia pertama-tama eksis—-bahwa manusia adalah manusia (man is), sesuatu yang mendesak, bergerak maju menuju masa depan dan bahwa ia menyadari apa yang ia lakukan itu. Jika memang benar bahwa eksistensi itu mendahului esensi, maka manusia itu bertanggungjawab atas mau menjadi apa dia (what he is). Inilah dampak paling pertama dari eksistensialisme yaitu bahwa manusia dengan menyadari bahwa kontrol berada penuh di tangannya, ia memikul beban eksistensinya itu, yaitu tanggungjawab, di pundaknya. Namun hal ini tidak lantas berarti bahwa ia bertanggungjawab hanya atas individualitasnya sendiri. Melainkan bahwa ia bertanggungjawab atas semua umat manusia.

Untuk menjawab ini, Sartre mengadakan dua distingsi atas subyektivisme. Pengertian yang pertama adalah kebebasan subjek individu. Pengertian kedua adalah bahwa manusia tidak bisa melampaui subjektivitas kemanusiaannya (human subjectivity). Pengertian kedua inilah yang pengertian yang lebih mendalam dari eksistensialisme. Pengertian yang kedua inilah yang memberikan gambaran kepada kita mengenai sifat dasar manusia yang kreatif, yang terus menerus mencipta dan menjadi apa yang dia inginkan. Mencipta ini berarti juga memilih dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbentang luas di hadapannya. Memilih antara ini atau itu pada saat yang bersamaan juga berarti mengafirmasi nilai dari apa yang dipilih. Dan yang kita pilih itu tentu apa yang kita anggap lebih baik, dan yang lebih baik bagi kita tentu juga kita anggap baik untuk semua. Tanggungjawab kita lantas terletak pada kualitas pilihan kita ini. Pilihan-pilihan yang kita buat itu menyangkut kemanusiaan sebagai suatu keseluruhan. Berangkat dari pengertian ini, kita siap memasuki dimensi kedua dari eksistensialisme yang mau dibuktikan Sartre dalam tulisannya ini yaitu tentang humanisme.

Humanisme dalam pandangan Sartre berbeda dengan humanisme yang sudah ada sebelumnya. Dalam pandangan Sartre, yang membedakan humanisme-nya dengan humanisme yang sudah digagas oleh banyak filsuf yang mendahuluinya terletak pada radikalitasnya. Nilai humanisme pada era sebelumnya oleh Sartre dianggap belum radikal karena masih mengandaikan adanya nilai-nilai yang ditentukan dari luar diri manusia itu sendiri, entah itu Tuhan, Realitas Tertinggi, ataupun norma-norma buatan manusia yang dilanggengkan. Konsepsi humanisme Sartre tidak hanya bermain di level abstrak-spekulatif, namun lebih pada etika tindakan dan self-commitment.

Pengertian humanisme yang diikuti Sartre adalah pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang mampu mengejar tujuan-tujuan transenden. Karena manusia adalah makhluk yang mampu melampaui dirinya sendiri, self-surpassing, dan mampu meraih obyek-obyek hanya dalam hubungannya dengan ke-self-surpassing-annya, maka ialah yang menjadi jantung dan pusat dari transendensinya (bukan dalam pengertian bahwa Tuhan adalah Yang Transenden, namun dalam pengertian self-surpassing). Dan relasi antara transendensi manusia dengan subjectivitas (dalam pengertian bahwa manusia tidak tertutup dalam dirinya sendiri melainkan selalu hadir dalam semesta manusia) itulah yang disebut Sartre dengan existential humanism. Ini disebut humanisme karena mengingatkan kita bahwa manusia adalah legislator bagi dirinya sendiri; betapapun ditinggalkan (abandoned) ia harus memutuskan bagi dirinya sendiri. Bukan dengan berbalik pada dirinya sendiri, namun dengan mencari, sembari melampaui dirinya, tujuan yang berupa kemerdekaan atau sejumlah realisasi tertentu, manusia bisa sampai pada kesadaran bahwa dirinya adalah sungguh-sungguh manusia. Yang manusia butuhkan bukanlah bukti dari eksistensi Tuhan, namun penemuan dirinya kembali dan untuk memahami bahwa tidak ada satupun yang dapat menyelamatkan dirinya kecuali dirinya sendiri. Dalam terang pengertian inilah Sartre berani mengatakan bahwa eksistensialisme itu optimistis, bukan sebuah ajaran untuk menarik diri dari dunia ramai dan masuk ke pertapaan guna menemukan kedamaian jiwa, melainkan sebuah ajaran untuk bertindak  secara konkret dalam dunia nyata, dunia sehari-hari, dunia umat manusia.

Jumat, 07 Juni 2013

Posted by Unknown |

Tugas Observasi E-Learning

Oleh:

Nadela Trully Marbun (12-033)
Ramot Hutasoit (12-041)
Ribka Lidwina  (12-049)
Karin R J Napitupulu (12-087)
Tefan A Simanjuntak (12-091)


A.    Identitas Sekolah

Nama Sekolah
           SMA SWASTA KALAM KUDUS MEDAN

Alamat Sekolah
           Jl Rambung No 9 Medan

Uang Sekolah
          Kelas 1 & 2     : Rp320.000,00 
          Kelas 3            : Rp330.000,00

Konsep E-learning
           Online (Koneksi Internet) dan Offline (Media Presentasi )

B.     Uraian Aktivitas Observasi

Hari Pelaksanaan
Selasa,21 Mei 2013

Waktu Pelaksanaan
Pukul 08.00-10.00 WIB

Pembagian Tugas 
Observasi Kelas                   : Semua anggota 

Wawancara Guru
* Guru                             : Nadela, Karin dan Tefan 
* Wakil Kepala Sekolah      : Ribka dan Ramot

Narasumber 
Bpk. L.J.Koster Sianipar,S.Si
Ibu  Dra.Irene Bukit,M.Pd

C.    Laporan Hasil Observasi

                               I.            Pendahuluan

Pembelajaran dan pengajaran telah mengalami banyak perubahan seiring dengan perkembangan teknologi. Penggunaan metode pengajaran yang berbasis komputerisasi haruslah lebih diperluas lagi di sekolah-sekolah agar ia dapat menyaingi perubahan-perubahan sistem pendidikan yang telah berkembang pada masa kini yang kita sebut sebagai sistem e-learning. E-learning sendiri merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dari sinilah, kita beranjak untuk mengetahui lebih jauh sudah sejauh apakah sistem e-learning dipakai dan dipergunakan oleh sekolah-sekolah. Menyadari hal itu, maka dalam mata kuliah psikologi pendidikan kali ini, kami ditugaskan untuk melakukan observasi mengenai sistem e-learning yang dilaksanakan oleh sekolah yang berada di wilayah Medan, Sumatera Utara. Beranjak dari itu, kami pun melakukan observasi di SMA Swasta Kalam Kudus Medan dengan alasan bahwa pada sekolah ini pembelajaran yang dilaksanakan sudah lebih modern dengan sarana dan prasarana teknologi yang cukup memadai. Adapun objek yang kami teliti adalah siswa-siswa yang melaksanakan proses pembelajaran dan guru yang menggunakan konsep e-learning itu sendiri. Observasi ini bertujuan untuk mengetahui konsep e-learning yang bersentuhan dengan topik pembahasan yang selama ini telah dipelajari pada mata kuliah psikologi pendidikan.

                            II.            Landasan Teori

Sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dan media dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai E-learning. E-learning ini membawa pengaruh terhadap terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik secara isi (contents) dan sistemnya. Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning khususnya di lembaga pendidikan (sekolah, training dan universitas). Ada yang menggunakannya sebagai suplemen (tambahan) terhadap materi pelajaran yang disajikan secara regular di kelas, namun ada juga yang memakai e-learning sebagai alternatif dalam pembelajaran.

Kecenderungan untuk mengembangkan e-learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan informasi.

Ada tiga hal penting sebagai persyaratan kegiatan e-learning, yaitu :

1. Kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan. Jaringan dapat saja mencakup LAN atau WAN.

2. Tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya CD-ROM, atau bahan cetak,

3. Tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan 

Dengan demikian, secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa e-learning merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet,LAN,WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya.

Manfaat  E-Learning menurut Bates (1995) dan Wulf (1996) terdiri dari 4 hal:

1. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).

2. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).

3. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).

4. Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).

Konsep keberhasilan program e-learning selain ditunjang oleh perangkat teknologi informasi, juga oleh perencanaan, administrasi, manajemen dan ekonomi yang memadai. Perlu juga diperhatikan peranan dari para fasilitator, dosen, staf, cara implementasi, cara mengadopsi teknologi baru, fasilitas, biaya, dan jadwal kegitan.

Para pengajar seperti  guru atau dosen  harus memiliki kemampuan dalam mempergunakan  e-learning. Kemampuan itu seperti : 
    - Mengerti tentang e-learning.
    - Mengidentifikasi karakteristik mahasiswa atau siswa 
   - Mendesain dan mengembangkan materi kuliah yang interaktif sesuai dengan perkembangan teknologi baru. 
    - Mengadaptasi strategi mengajar untuk menyampaikan materi secara elektronik 
    - Mengorganisir materi dalam format yang mudah untuk dipelajari 
    - Melakukan training dan praktek secara elektronik 
    - Terlibat dalam perencanaan, pengembangan, dan  pengambilan keputusan 
    - Mengevaluasi keberhasilan pembelajaran, attitude, dan persepsi para mahasiswanya.

Strategi penggunaan e-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar, diharapkan dapat meningkatkan daya serap dari siswa atau mahasiswa atas materi yang diajarkan; meningkatkan partisipasi aktif dari siswa atau mahasiswa; meningkatkan kemampuan belajar mandiri siswa atau mahasiswa; meningkatkan kualitas materi pendidikan dan pelatihan, meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dengan perangkat biasa sulit untuk dilakukan; memperluas daya jangkau proses belajar-mengajar dengan menggunakan jaringan komputer, tidak terbatas pada ruang dan waktu. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas, dalam pengembangan suatu aplikasi e-learning perlu diperhatikan bahwa materi yang ditampilkan harus menunjang penyampaian informasi yang benar, tidak hanya mengutamakan sisi keindahan saja; memperhatikan dengan seksama teknik belajar-mengajar yang digunakan; memperhatikan teknik evaluasi kemajuan mahasiswa dan penyimpanan data kemajuan siswa atau mahasiswa.

Menurut Koswara (2006) ada beberapa strategi pengajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan teknologi e-learning adalah sebagai berikut :

a. Learning by doing

Simulasi belajar dengan melakukan apa yang hendak dipelajari; contohnya adalah simulator penerbangan (flight simulator), dimana seorang calon penerbang dapat dilatih untuk melakukan penerbangan suatu pesawat tertentu seperti ia berlatih dengan pesawat yang sesungguhnya

b. Incidental learning

Mempelajari sesuatu secara tidak langsung. Tidak semua hal menarik untuk dipelajari, oleh karena itu dengan strategi ini seorang siswa atau  mahasiswa dapat mempelajari sesuatu melalui hal lain yang lebih menarik, dan diharapkan informasi yang sebenarnya dapat diserap secara tidak langsung. Misalnya mempelajari geografi dengan cara melakukan “perjalanan maya” ke daerah-daerah wisata.

c. Learning by reflection

Mempelajari sesuatu dengan mengembangkan ide/gagasan tentang subyek yang hendak dipelajari. Siswa atau mahasiswa didorong untuk mengembangkan suatu ide/gagasan dengan cara memberikan informasi awal dan aplikasi akan “mendengarkan” dan memproses masukan ide/gagasan dari mahasiswa untuk kemudian diberikan informasi lanjutan berdasarkan masukan dari mahasiswa.

d. Case-based learning

Mempelajari sesuatu berdasarkan kasus-kasus yang telah terjadi mengenai subyek yang hendak dipelajari. Strategi ini tergantung kepada nara sumber ahli dan kasus-kasus yang dapat dikumpulkan tentang materi yang hendak dipelajari. Siswa atau mahasiswa dapat mempelajari suatu materi dengan cara menyerap informasi dari nara sumber ahli tentang kasus-kasus yang telah terjadi atas materi tersebut.

e. Learning by exploring

Mempelajari sesuatu dengan cara melakukan eksplorasi terhadap subyek yang hendak dipelajari. Siswa atau mahasiswa didorong untuk memahami suatu materi dengan cara melakukan eksplorasi mandiri atas materi tersebut. Aplikasi harus menyediakan informasi yang cukup untuk mengakomodasi eksplorasi dari mahasiswa. Mempelajari sesuatu dengan cara menetapkan suatu sasaran yang hendak dicapai (goal-directed learning). Siswa atau mahasiswa diposisikan dalam sebagai seseorang yang harus mencapai tujuan/sasaran dan aplikasi menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam melakukan hal tersebut. siswa atau mahasiswa kemudian menyusun strategi mandiri untuk mencapai tujuan tersebut.

            Kelebihan dan Kekurangan E-learning

            Kelebihan

1. E-learning dapat mempersingkat waktu pembelajaran

2. E-learning mempermudah interaksi antara peserta didik dengan bahan atau materi, peserta didik dengan guru maupun sesama peserta didik.

3. Peserta didik dapat saling berbagi informasi dan dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang-ulang, dengan kondisi yang demi-kian itu peserta didik dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran

4. Kehadiran guru tidak mutlak diperlukan

5. Guru akan lebih mudah melakukan alternatif bahan-bahan belajar yang mutakhir sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuwan, mengembang-kan diri atau melakukan penelitian guna meningkatkan wawasannya, dan mengontrol kegiatan belajar peserta didik.

6. Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.

7.  Berubahnya peran siswa dari yang biasanya pasif menjadi aktif.

Kelemahan

1. Untuk sekolah tertentu terutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang mahal untuk membangun e-learning.

2. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal. Keterbatasan jumlah komputer yang dimiliki oleh sekolah akan menghambat pelaksanaan e-learning.

3. Bagi siswa yang gagap teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.

4. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggu-nakan ICT.

5. Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya nilai dalam proses belajar dan mengajar.

                         III.            Objek Penelitian

Objek yang menjadi sumber observasi adalah siswa-siswi kelas  X SMA SWASTA KALAM KUDUS MEDAN khususnya kelas X-2

                         IV.            Jadwal Pelaksanaan

Observasi dilakukan mulai dari pukul 08.00- 10.00 WIB bertempat di SMA SWASTA KALAM KUDUS MEDAN.

                            V.            Pelaksanaan

Bermula dari kesepakatan kami untuk berkumpul di Kampus pada Fakultas Psikologi pukul 07.00WIB .Kami berangkat menuju lokasi pada pukul 07.15WIB dari kampus  dan tiba dilokasi pukul 07.30WIB.Tiba di lokasi kamipun langsung berangkat menuju Kantor Kepala Sekolah yang berada di lantai 2, dan mengurus surat-surat yang telah disepakati pada pertemuan pertama.Pengurusan surat berjalan dengan lancar, kamipun di persilahkan untuk memasuki kelas  X-II  pukul 08.00WIB yang dimulai dari perkenalan kami yang dipandu oleh guru pengajar, yang bertepatan sebagai guru bidang study biologi Dra.Irene Bukit, M.Pd dan menjelaskan apa maksud dan tujuan kami datang dan memasuki kelas mereka.Suasana di dalam kelas selama observasi berlangsung kurang terkontrol, tetapi guru memegang andil dan kelaspun dapat dikendalikan.Berlangsung sekitar 1 jam, tepat pukul 09.00WIB pergantian matapelajaran dan kamipun beranjak dari kelas sesuai dengan kesepakatan yang ada dan kamipun mengucapkan terimakasih kepada siswa-siswa yang telah membantu dalam keberlangsungan tugas kami.Dengan waktu yang ada tepat pukul 09.15WIB kamipun melanjutkan observasi dengan mewawancarai guru, dan Wakil Kepala Sekolah yang sedang berada di tempat selama satu jam kedepan.Kami ditanggapi dengan baik oleh para narasumber kami yang tampak dari proses berlangsungnya tanya-jawab. Pukul 10.00WIB kamipun telah mendapat informasi-informasi yang membantu dalam keberlansungan tugas Mata Kuliah Pendididkan dan kamipun menyampaikan rasa terimakasi kami dapa guru serta Wakil Kepala Sekolah dan bergegas meninggalkan lokasi.


                         VI.            Laporan Penelitian

Berdasarkan observasi dan wawancara yang kami lakukan, kami memperoleh:

1.      Konsep e-learning

Mengingat gedung sekolah yang digunakan adalah gedung baru (gedung 2), maka proses e-learning masih dalam proses “penyamaan” dengan yang telah diberlakukan saat di gedung yang sebelumnya. Dari kedua narasumber didapatkan keterangan bahwa konsep e-learning sebenarnya telah dilakukan sudah cukup lama (±5 tahun). Adapun konsep e-learning yang digunakan ialah:

·         Online : Beberapa guru menerapkan sistem ini misalnya dengan menghimbau siswa-siswinya untuk mengunduh materi pelajaran dari link yang diberikan oleh guru mereka. Beberapa guru juga sering memberikan contoh-contoh soal sebagai latihan sebelum ujian (kisi-kisi) dengan mengirimkan ke email beberapa siswa mereka yang kemudian akan disebarkan ke kelas masing-masing.

·         Offline : Dengan dilengkapinya proyektor di setiap kelas maka guru-guru dapat memberikan materi dengan menggunakan komputer (dengan powerpoint) kepada siswa-siswinya. Walaupun sistem ini belum 100% diterapkan namun hampir semua guru telah menerapkannya. Dan hampir sama dengan beberapa sekolah lain, karena siswa-siswinya tidak diperkenankan untuk membawa barang elektronik, maka semua materi dalam proses pembelajaran offline ini masih sepenuhnya difasilitasi oleh guru mereka.

2.      Teori Motivasi

·         Teori Kognitif

Dengan adanya keyakinan akan kemampuan yang dimiliki, siswa-siswi di sekolah ini mampu memahami setiap materi yang disampaikan sehingga motivasinya untuk belajar meningkat. Bahkan terdapat persaingan dari mereka dimana setiap siswanya berlomba untuk maju ke depan kelas dan menjawab pertanyaan sehingga siswa yang lain semakin terdorong untuk belajar.


·         Teori Sosial

Dari hasil yang kami peroleh, tidak sedikit murid-murid yang terdorong untuk datang ke sekolah untuk dapat mengobrol dengan teman mereka.

3.      Teori Belajar

Dari observasi yang kami lakukan, teori belajar yang diterapkan di sekolah ini adalah:

·         Teori Belajar Kognitif

Para peserta didik memproses informasi dan menghubungkan informasi yang dahulu telah mereka terima dengan yang baru mereka dapatkan.

4.      Orientasi Belajar

Adapun orientasi belajar yang diterapkan di sekolah ini ialah TCL (Teacher-Centered Learning), dimana yang menjadi pusat dan sumber pelajaran ialah guru. Pada orientasi belajar ini guru sebagai “pengirim” mengirimkan informasi kepada siswa-siswinya sebagai “penerima”.

5.      Manajemen Kelas

Kelas ditata sesuai dengan gaya auditorium dimana semua murid duduk menghadap guru. Jumlah siswa dalam satu kelas ±37 orang dimana setiap siswa memiliki meja dan bangku sendiri (tidak memiliki teman sebangku).

                      VII.            Evaluasi
Menurut pendapat kelompok kami, penerapan Konsep E-Learning di sekolah SMA Kalam Kudus Medan masih kurang maksimal penggunaannya. Padahal, dari hasil wawancara kami, dikatakan bahwa penerapkan konsep ini sudah cukup lama ada di sekolah ini. Namun, belum setiap guru disekolah ini menggunakan dan memanfaatkan fasilitas E-Learning seperti proyektor yang sudah ada di setiap kelas sejak 2 tahun terakhir. Adapun guru yang sudah menerapkan konsep E-Learning masih sebatas mata pelajaran tertentu saja. Mereka mengatakan bahwa, beberapa mata pelajaran tidak sesuai dan kurang maksimal penyampaiannya kepada siswa. Kelompok kami merasa, bahwa para guru belum memahami fungsi dari E-Learning itu sendiri. Selain itu, ada juga kecenderungan guru-guru merasa malas untuk belajar mengoperasikan alat-alat yang dipergunakan untuk Konsep Pembelajaran E-Learning ini. Dari siswa sendiri, menurut pengamatan kami, mereka cukup antusias dengan adanya konsep E-Learning ini. Siswa merasa lebih terbantu dalam hal pembelajaran dengan adanya penerapan Konsep E-Learning ini di sekolah mereka. Adanya perbedaan pandangan antara guru dan murid mengenai penerapan Konsep E-Learning ini membuat manfaat dan fungsi diadakannya Konsep E-Learning ini kurang terealisasikan dengan maksimal.

A.    Rangkuman Hasil Observasi


Dari hasil Observasi, kami melihat bahwa penerapan Konsep E-Learning di sekolah ini masih belum maksimal. Tersedianya fasilitas penunjang Konsep E-Learning disetiap kelas terasa sia-sia karena tidak setiap guru memanfaatkannya ketika proses belajar mengajar. Perbedaan cara pembelajaran yang diterapakan masing-masing guru seperti ada yang memperbolehkan membawa laptop kekelas dan ada yang tidak  membuat para siswa menjadi bingung untuk mengambil tindakan di sekolah. Selain dari  penggunaan Konsep E-Learning, kami juga melihat kondisi, suasana dan manajemen kelas yang ada disekolah tersebut. Dan menurut kami kondisi dan suasana kelas di sekolah itu masih kurang baik dari segi pencahayaan, sirkulasi udara, dan tata kelas. Manajemen Kelas yang diterapkan juga masih kurang baik, sehingga mengakibatkan kondisi kelas menjadi tidak kondusif.
Kemudian, dari hasil pengamatan kami, kami melihat bahwa motivasi murid mengenai pembelajaran E-Learning di kelas cukup antusias bahkan sangat antusias sampai-sampai mengakibatkan kondisi kelas terkesan tidak kondusif.


B.     Testimoni Tentang Perencanaan dan Proses Observasi

a. Nadela Trully Marbun

Menurut saya, pelaksanaan observasi yang ditugaskan dalam dalam mata kuliah psikologi pendidikan ini sangat membantu kami dalam memahami dan memperluas wawasan kami terhadap sistem pendidikan e-learning ini. Berkenaan dengan sistem e-learning di sekolah yang kami observasi, menurut saya penggunaan e-learning cukup memadai karena saya melihat penggunaan proyektor cukup menunjang pembelajaran khususnya menambah ketertarikan para siswa yang tampak dari beberapa siswa yang cukup aktif dalam proses pembelajaran dan selain itu juga membantu memudahkan para guru dalam memberikan materi pelajaran.

b. Ramot Hutasoit

Saya pribadi, melihat Konsep E-Learning sangat membantu pembelajaran saat ini. Selain, penggunaan waktu yang semakin efektif, penggunaan Konsep E-Learning juga sangat membantu baik guru maupun murid dalam proses belajar mengajar saat ini. Saya pribadi, sangat mendukung adanya Konsep E-Learning ini. Dengan adanya Konsep E-Learning saya merasa sistem pembelajaran seharusnya dapat semakin berkembang dan semakin maksimal dalam hal pengerjaannya. Namun dari observasi yang telah kami lakukan, saya merasa manfaat dari Konsep Pembelajran E-Learning masih sangat kurang dirasakan akibat penarapannya yang kurang maksimal. Saya berharap, agar penggunaan Konsep E-Learning ini sendiri semakin digalakkan lagi agar sistem pembelajaran dapat lebih bervariasi sehingga tidak menimbulkan kejenuhan seperti yang dirasakan kebanyakan siswa pada saat ini.

c. Ribka Lidwina

Keberhasilan dapat diraih dengan adanya kerjasama dalam kelompok dan kekonsistenan diri.Itulah salah satu pembelajaran yang dapat saya raih melalui observasi sekolah ini yang dimana merupakan kali pertama bagi saya pribadi.Dimana dalam proses observasi ini awalnya timbul rasa canggung yang lama kelamaan tertutupi dengan adanya sambutan yang baik dari pihak sekolah.Dalam proses observasi kamipun menyadari pentingnya  e-learning ini pada sekolah-sekolah guna mendukung proses belajar.Di sekolah tempat kami observasi penggunaan e-leaning sudah cukup memadai untuk keberlangsungan pembelajaran.

d. Karin R J Napitupulu

Awalnya, pada saat berdiskusi mengenai kegiatan observasi ini, kami mengalami kesulitan dalam menentukan ke tingkat sekolah mana yang akan kami observasi. Kelalaian kami juga karena kami mencari sekolah itu di bulan-bulan terakhir anak sekolah belajar. Namun, belajar dari kelalaian kami tersebut, kami akhirnya mendapatkan sekolah.  Kegiatan Observasi merupakan kegiatan yang  baru yang menambah pengalaman saya. Kegiatan tersebut juga menambah pengetahuan kami dalam menilai, mengamati objek dari berbagai sisi dan menyesuaikan dengan teori-teori pembelajaran yang sudah kami pelajari.

e. Tefan A Simanjuntak

Walaupun pada awalnya kami memiliki kesulitan dalam mencari sekolah yang telah menerapkan e-learning, namun saya sangat menikmati kegiatan ini. Observasi yang kami lakukan ini selain dapat menambah pengalaman kami, juga dapat memberikan pemahaman yang lebih kepada kami mengenai konsep belajar e-learning dan banyak hal dalam menilai suatu pembelajaran dari berbagai sisi.





Senin, 03 Juni 2013

Posted by Unknown |

Pembelajaran di SLB D/D1

SLB D
Yang dimaksud dengan sekolah luar biasa D adalah sekolah yang menangani anak-anak Tunadaksa/cacat fisik yang memiliki tingkat kecerdasannya sama dengan anak normal.
Sehingga anak-anak ini diharapkan dapat memasuki sekolah umum setelah lulus dari sekolah dasar.
Anak-anak luar biasa bagian D apabila secara psikologis telah dapat menerima lingkungan sekitar , berintegrasi lebih awal lebih baik ditinjau dari psikologi dan sosial anak.
SLB D1
Sekolah yang melayani anak-anak Tunadaksa yang memiliki tingkat kecerdasan dibawah rata-rata anak normal , sehingga dibutuhkan pengajaran khusus
PENDIDIKAN YANG IDEAL BAGI ANAK TUNADAKSA

Tujuan pendidikan anak Tunadaksa bersifat ganda (dual purpose), yaitu yang berhubungan dengan aspek rehabilitasi pemulihan dan pengembangan fungsi fisik, dan yang berkaitan dengan pendidikan yang mengacu pada tujuan pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik .
Adapun prinsip dasar program pendidikannya meliputi:
1. Keseluruhan anak (All the children)
2. Kenyataan (Reality)
3. Program yang dinamis (A dynamic program)
4. Kesempatan yang sama (Equality of opportunity)
5. Kerjasama (Cooperative)
 

Sedangkan prinsip khusus
Pendidikannya terdiri dari prinsip multisensori dan prinsip individualisasi.
Multisensori berarti banyak indera, maksudnya dalam proses pendidikan pada anak tunadaksa sedapat mungkin memanfaatkan dan mengembangkan indera-indera yang ada dalam diri anak agar kesan pendidikan yang diterimanya lebih baik.
Prinsip individualisasi berarti kemampuan masing-masing diri individu lebih dijadikan titik tolak dalam memberikan pendidikan pada mereka. Model layanannya dapat berbentuk individual dan klasikal pada individu yang cenderung memiliki kemampuan yang hamper sama, bahan pelajaran yang diberikan pada siswa sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.
 Layanan pendidikan untuk anak Tunadaksa dapat dilakukan dengan pendekatan guru kelas, guru mata pelajaran/bidang studi, campuran dan pengajaran tim.
a)      Pembelajaran di sekolah idealnya sebagai berikut:

b)      Perencanaan kegiatan belajar mengajar: Program pendidikan yang diindividualisasikan

c)      Prinsip Pembelajaran: Prinsip multisensori dan prinsip individualisasi

d)     Penataan Lingkungan Belajar
Bangunan gedung memprioritaskan tiga kemudahan:
·         mudah keluar masuk,
·         mudah bergerak dalam ruangan, dan
·         mudah mengadakan penyesuaian.
e)      Personil:
guru PLB, guru regular, dokter ahli anak, dokter ahli rehab medis, dokter ahli    ortopedi , dokter  ahli syaraf , psikolog, guru BP, social worker, fisioterapist, occupational therapist, speechterapist, orthotic dan prosthetic.
f)   Bimbingan Belajar
Anak Tunadaksa memerlukan bimbingan belajar membaca, menulis, dan berhitung. Ketiga      kemampuan dasar ini perlu memperoleh layanan sedini mungkin sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak, manakala telah memasuki program sekolah dasar
g)  Pembinaan Karier dan Pekerjaan
    Untuk mempersiapkan masa depan anak, di sekolah perlu adanya pembinaan karier. Pengertian karier tidak dipandang hanya sebagai pekerjaan yang diberikan pada tamatan sekolah menengah atas, tetapi dibutuhkan oleh semua siswa sejak Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. Pada jenjang TKLB dan SDLB materi pembahasannya adalah untuk memberikan pengertian dasar mengenai kemungkinan pekerjaan dalam hidup kelak dan memberikan kesadaran bahwa sekolah memberi kesempatan untuk bereksplorasi dalam mempersiapkan kehidupan kelak; sedangkan pada tingkatan yang lebih tinggi selain melanjutkan materi tersebut telah diarahkan pada prevokasional maupun vokasional.
   Pembinaan karier dan pekerjaan dimulai dari kegiatan asesmen karir dan pekerjaan agar dapat menyusun program pembinaan karir dan vokasional yang sesuai dengan kondisi kemampuan dan kecacatan anak tunadaksa.
   Berkaitan dengan penyusunan program, Philip (1986) mengemukakan bahwa program yang disusun harus berbentuk IEP (Individualized Educational Program) yang mempunyai ciri-ciri sasaran untuk remidi bila siswa mengalami kesulitan dalam membaca formulir pekerjaan, berkomunikasi dengan menggunakan telepon, penggunaan uang dalam pekerjaan, dll. Salah satu contoh pogram IEP adalah pengembangan motorik halus untuk pekerjaan menjahit, pertanaman, mengatur makanan, dll.

Alur pembinaan karier dan pekerjaan dapat disajikan seperti berikut:
Asesmen → pemograman → proses → evaluasi → daya guna/tepat guna
 
 
Adapun Frances P. Connor (1995) mengemukakan sekurang-kurangnya ada 7 aspek yang perlu dikembangkan pada diri masing-masing anak Tunadaksa melalui pendidikan, yaitu:
(1) pengembangan intelektual dan akademik,
(2) membantu perkembangan fisik,
(3) meningkatkan perkembangan emosi dan penerimaan diri anak,
(4) mematangkan aspek sosial,
(5) mematangkan moral dan spiritual,
(6) meningkatkan ekspresi diri, dan
(7) mempersiapkan masa depan anak.
 
Pembelajaran di SLB E
SLB E adalah sekolah untuk anak-anak yang mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi (Tuna Laras). Anak Tuna Laras pada umumnya sama dengan anak normal lainnya, hanya saja mereka kesulitan dalam hal pengendalian emosi.
Dalam SLB E, yang paling diutamakan adalah pembelajaran untuk mengendalikan emosi si anak. Hal ini dikarenakan permasalahan utama anak Tuna Laras adalah dalam pengendalian emosinya. Emosi anak Tuna Laras tidak stabil sehingga mereka sulit untuk tenang dan diarahkan. Oleh karena itu dalam SLB E ini mereka dilatih untuk lebih tenang dan lebih sabar dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.
Metode yang cukup efektif dalam permasalahan ini adalah dengna pemberian tugas yang melatih kesabaran seperti menyusun puzzle, meronce, bermain Lego, mewarnai, dan lain sebagainya. Dengan pelatihan seperti itu, anak diharapkan dapat lebih bersabar dan emosi mereka lebih terkendali. Selain itu para pengajar harus memahami kondisi si anak, dan bagaimana keadaan si anak dengan cara mendengarkan keinginan si anak serta mengarahkannya. Pemberian reward atas hal positif yang dilakukan anak dapat mengarahkan tindakan si anak.
 
Pembelajaran di SLB G
SLB G adalah sekolah yang menangani anak-anak yang mengalami gangguan ganda. Gangguan ganda tersebut dapat berupa gangguan fisik maupun gangguan mental. Oleh karena itu metode pembelajaran yang diterapkan haruslah lebih kompleks daripada metode pembelajaran yang terdapat di jenis SLB lainnya. Penggabungan metode pembelajaran dari setiap jenis SLB sangat dibutuhkan dalam SLB G ini. Setiap metode yang dilakukan memiliki peran masing-masing dalam perkembangan anak-anak yang mengalami gangguan ganda tersebut. Sama seperti di jenis SLB lainnya, di SLB G ini juga perlu dilakukan pelatihan fisik maupun pelatihan mental. Cara pengajar dalam memahami dan mengajari anak juga harus diperhatikan. Pengajar harus mampu mengenal dan memahami masing-masing anak karena setiap anak pastilah memiliki kebutuhan yang berbeda-beda